Menghargai
setiap keunikan manusia akan membuat diri kita menjadi arif bijaksana
dalam bersikap dan bertindak. Anda tidak mungkin menuduh orang lain
sombong dan angkuh ketika anda menyadari keunikan ini. “Inggris kita Linggis, Amerika kita Setrika!”
diucapkan Bung Karno dengan suara lantang, apakah Bung Karno Sombong
dan Angkuh? TIDAK, Beliau sedang membangkitkan semangat untuk rakyatnya.
Lihatlah
ekspresi pemain bola ketika dia berhasil memasukkan bola ke gawang
lawan, melompat, berguling, berteriak, mengacungkan tinju dan lain
sebagainya untuk menyalurkan rasa senang berlebih yang mereka rasakan.
Apakah mereka sombong dan angkuh? TIDAK, itu wujud rasa bahagia dan
gembira. Kalau mereka tidak seperti itu bisa jadi jantung mereka akan
berhenti berdetak karena aliran darah dengan sangat cepat mengalir
ketika bahagia, bisa jadi mereka mati mendadak. Tindakan melompat dan
berteriak itu adalah hal yang alamiah dilakukan oleh pemain bola tapi
Jangan sekali-kali anda lakukan di mesjid ketika anda senang mendengar
Khutbah Jumat :)
Kalau
anda bisa menerima perbedaan-perbedaan dalam diri manusia maka anda
akan lebih bisa mencapai bahagia. Anda akan melihat manusia diluar anda
seperti seorang Bapak melihat anak-anaknya dengan segala keunikan. Anda
bisa mempelajari karakter-karakter manusia itu lewat alam dan banyak
bergaul namuan cara paling cepat lewat seminar-seminar tentang
kepribadian yang sekarang banyak dilaksanakan di kota-kota diseluruh
Indonesia.
Rasulullah
SAW dalam hal ini mewariskan kepada Ulama Para Pewaris Nabi untuk bisa
melihat setiap manusia dengan “kacamata” Tuhan sehingga bisa melihat
setiap manusia berdasarkan kehendak Tuhan. Cara melihat ini yang paling
langka dan tentu saja yang paling benar karena telah menghilangkan
prasangka dan praduga.
Melihat
manusia dengan “Kacamata” Tuhan ini yang membuat Rasulullah SAW berkata
bahwa Umar bin Khattab Kelak akan jadi pembela Islam walaupun saat itu
Umar ra adalah salah satu tokoh yang amat memusuhi Nabi.
Itulah
sebabnya seorang murid yang selalu bersama Guru Mursyidnya dalam jangka
waktu tertentu walau pun secara zahir tidak pernah diajari apa-apa akan
tetapi setelah selesai mengabdi kepada Gurunya akan menjadi manusia
berbeda, manusia yang tanpa sadar bisa melihat manusia lain dalam
pandangan berbeda. Barangkali Guru telah berkenan meminjamkan salah satu
teropong langka di muka Bumi, Guru saya menyebutnya sebagai “Teropong
Wali”, dengan itu si murid bisa melihat manusia lain dengan pandangan
berbeda.
Tulisan
ini kalau saya perpanjang akan sangat panjang, tapi saya cukupkan
sampai disini dulu. Insya Allah tulisan ini akan saya lanjutkan lagi di
lain kesempatan dengan judul yang berbeda. SMoga Allah senantiasa
membimbing dan menuntun kita ke Jalan-Nya yang Lurus dan Benar ini.
Aamiin 3x ya Rabbal ‘Alamin!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar